Paham Terorisme dan Konspirasi Penguasa

Opini Edisi Aktual

Oleh : Alvinus Chaniago, SE

"Ancaman terorisme adalah nyata, dekat, dan berbahaya, ..." ucap Moeldoko.

Apa yang diucapkan oleh Moeldoko tersebut sebenarnya berkebalikan dengan tujuan yang disampaikan olehnya. Dengan ucapannya itu, Moeldoko dengan sendirinya telah menciptakan opini-opini konspirasi baru yang dibangun berdasarkan narasinya. Sebagai salah satu simbol dari pemerintah atau rezim penguasa saat ini, secara sengaja Moeldoko telah melakukan tindakan yang tidak bertanggung jawab untuk memperkeruh situasi.

Baca: Surat Iblis, "Aku Beriman Kepada Allah!"

Dari fakta yang mucul maka ditemukan beberapa penyebab atau alasan masuk akal kenapa individu tertentu sampai melakukan tindakan teror atau alasan penyebab terciptanya aksi teror, antara lain :

Pertama, kurangnya (hilangnya) kepercayaan kepada Pemerintah sebagai pemangku kekuasaan dan penegak hukum. Sehingga dianggap bahwa keadilan itu sudah tidak ada lagi. Dengan sedikit gertakan dari Pemerintah yang dengan sengaja ingin menciptakan kekisruhan demi kepentingan penegasan kekuasaannya, membuat individu seperti ini terpancing hingga dapat melakukan suatu tindakan teror.

Kedua, paksaan dari pihak tertentu dengan ancaman. Biasanya ini bukan oleh atau karena latar agama, melainkan karena kepentingan dari pihak-pihak yang berkuasa. Sebab hanya mereka para penguasa yang dapat melakukan ancaman dan intimidasi serta memberikan akses kepada para pelaku teror.

Ketiga, isu dan propaganda. Hal ini juga diciptakan dengan rekayasa dan kekuatan kekuasaan yang mengendalikan aparat atau bisa jadi adalah aparat itu sendiri, dengan tujuan demi kepentingan mereka atau untuk menutupi sesuatu (pengalihan isu).

Keempat, kepentingan dari media yang berkerjasama dengan pihak agama tertentu yang memusuhi agama tertentu. Tujuannya selain sebagai bahan berita bagi media, juga untuk mendiskreditkan agama tertentu dan menciptakan opini kebencian terhadap agama tersebut.

Kelima, peran serta pihak lain dari luar negara. Tujuannya untuk menciptakan kebencian dan perpecahan dalam suatu negara, juga perpecahan antar saudara seagama atau segolongan. Dengan timbulnya perpecahan tersebut, mereka pihak luar lebih mudah untuk menguasai dan mengendalikan negara tersebut.

Baca: Idealisme Manusiawi dan Idealisme Ketuhanan

Dari kelima penyebab terjadinya tindakan teror yang disebutkan di atas, dapatlah diperoleh kesimpulan bahwa teroris atau pelaku aksi teror melakukan aksinya bukan karena paham atau ajaran suatu agama tertentu, melainkan ditimbulkan oleh karena adanya faktor kepentingan dari individu atau kelompok yang sedang memangku kepentingan. Tindakan teror ini juga harus didukung oleh akses dan fasilitas yang hanya dimiliki oleh penguasa agar dapat terlaksana. Karena pada dasarnya aksi teror tidak akan dilakukan oleh manusia, sebab sudah manusiawi sebagai manusia setiap orang ingin hidup damai dan membenci kekerasan. Sifat alami manusia tersebutlah yang mendasari terciptanya hukum-hukum adat pada zaman dahulu yang merupakan pondasi dari hukum-hukum negara yang ada pada saat ini.

Salah satu aksi teror paling bersejarah di Indonesia adalah penjajahan selama ratusan tahun yang dialami bangsa ini lebih dari setengah abad lalu. Tanyakanlah pada diri kita, siapa pelakunya? Apakah mereka orang dari Timur Tengah? Apa agamanya? Apakah mereka umat Muhammad? Apa tujuannya? Apakah mereka berhasil menyebarkan agamanya? Ataukah mereka hanya mengeruk keuntungan dari sumber daya daerah jajahannya? Siapa dalang dibalik penjajahan mereka? Apakah individunya atau Penguasa dibelakang mereka? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membuka mata kita, bahwa penjajahan merupakan tindakan teror terbesar sepanjang sejarah yang dilatarbelakangi oleh kepentingan dari Penguasa bukan agama. Begitulah sepanjang zaman, apapun model dan jenisnya teror, teroris atau terorisme merupakan perpanjangan tangan dari kepentingan Penguasa.