Pengaruh Penempatan TPS Dalam Meningkatkan Partisipasi Pemilih

Opini Edisi Aktual

Oleh : Andi Chaniago, SE

Demokrasi Indonesia

Republik Indonesia adalah salah satu negara terbesar di dunia berdasarkan jumlah penduduk dan luas wilayahnya. Dalam menjalankan pemerintahan, Indonesia menerapkan sistem demokrasi.

Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya (rakyat) memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah (mempengaruhi) kehidupan mereka.

Sistem demokrasi Indonesia dilandasi oleh kedaulatan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, namun pada kenyataannya fungsi rakyat sebagai pemilih hanya sebagai pelengkap untuk memeriahkan panggung politik bagi orang-orang berkepentingan semata.

Dalam pelaksanaan proses pesta demokrasi di Indonesia yang diadakan setiap 5 tahun sekali ini, ada peran-peran penting dari anggota-anggota tertentu yang berdedikasi dan sangat diperlukan dalam proses perencanaan maupun penyusunan program kerja, serta membantu menghitung perolehan hasil suara serta hal-hal terkait dalam pemilihan umum (Pemilu). Agar hal tersebut sesuai dengan harapan yang diinginkan oleh rakyat yaitu jujur, adil, transparan dan lain sebagainya.

Orang-orang ini akan dituntut untuk bisa menciptakan kondisi di mana hasil dari proses pemilihan umum (Pemilu) yang bersih dan mampu untuk meningkatkan partisipasi dari permilih.

Baca: Idealisme Manusiawi dan Idealisme Ketuhanan

Menyimak dari perjalanannya, permasalahan dari lemahnya partisipasi pemilih pada setiap dilaksanakannya pemilihan umum (Pemilu) banyak disebabkan oleh faktor kepercayaan rakyat yang lemah pada sosok calon pemimpin yang ditawarkan. Disamping faktor psikologis tersebut, ada juga faktor wilayah atau penempatan Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang ternyata sangat berpengaruh terhadap minat pemilih dalam memberikan pilihan terutama di daerah pedesaan.

Besarnya pengaruh penempatan Tempat Pemungutan Suara (TPS) ini sering luput dari pengamatan para pengamat maupun penyelenggara pemilihan umum (Pemilu). Padahal dari data di lapangan membuktikan bahwa pemilih yang bertempat tinggal jauh dari letak TPS-nya cenderung pasif dan menganggap pemilihan umum (Pemilu) bukan merupakan hal yang penting.

Berikut adalah faktor-faktor yang harus lebih diperhatikan oleh pengamat, media, dan penyelenggara pemilihan umum (Pemilu) agar dapat lebih meningkatkan minat pemilih dalam memberikan hak pilihnya.

Pertama, tingkatkan partisipasi setiap lini dari setiap lapisan masyarakat dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan pemilihan umum (Pemilu). Kecenderungan masyarakat yang lebih memilih masa bodoh atau acuh terhadap hak mereka dalam memberikan pilihan, kebanyakan didasarkan oleh ketidaktahuan mereka.

Baca: Silaunya Fatamorgana Kemerdekaan di Masa Rezim Jokowi

Kedua, jangan batasi kreativitas masyarakat dalam menyampaikan aspirasi. Ketidakterbukaan penyelenggara untuk menerima tanggapan, masukan, saran serta laporan dari masyarakat sering kali membuat masyarakat menganggap bahwa mereka bukan elemen penting dalam kegiatan pemilihan umum (Pemilu) karena mereka beranggapan bahwa mereka bukan penyelenggara atau calon yang akan dipilih.

Ketiga, buatlah aturan yang mempermudah masyarakat dalam memberikan hak pilih namun tetap pada jalur yang tepat. Terbenturnya keinginan masyarakat dalam memberikan hak pilih mereka kebanyakan diakibatkan oleh sistem administrasi kependudukan dalam aturan pemilihan umum (Pemilu) yang membatasi hak mereka untuk memberikan pilihan.